Senin, 03 November 2025

Internalisasi Nilai-nilai Pesantren di desa-desa

MAKALAH ILMIAH


INTERNALISASI DAN IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KEPESANTRENAN (MODERN DAN SALAF) DI DESA-DESA


Disusun Oleh:

Nama: Abdul Rosyid Ahmad Dj.

NIM: 3404072001670005

Institusi: The Ramadhan Institute


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

FAKULTAS TARBIYAH DAN PENDIDIKAN

NAMA RAMADHAN INSTITUTE

TAHUN AJARAN 2025/2026



HALAMAN PENGESAHAN


Makalah ilmiah dengan judul "Internalisasi dan Implementasi Nilai-Nilai Kepesantrenan (Modern dan Salaf) di Desa-Desa" ini telah disusun dan diseminasikan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah [Nama Mata Kuliah].


Disusun oleh:

Nama: [Nama Penulis]

NIM: [Nama Penulis]


Dosen Pengampu:

[Nama Dosen]

NIP.[NIP Dosen]


Mengetahui,

Ketua Program Studi[Nama Prodi]


[Nama Ketua Prodi]

NIP.[NIP Ketua Prodi]


---


KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim.


Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ilmiah dengan judul "Internalisasi dan Implementasi Nilai-Nilai Kepesantrenan (Modern dan Salaf) di Desa-Desa" ini dapat diselesaikan.


Makalah ini berusaha menguraikan peran strategis pesantren, baik yang bercorak modern maupun salaf, dalam membentuk karakter dan tata kehidupan sosial di pedesaan. Penulis menyadari bahwa nilai-nilai luhur yang ditanamkan pesantren memiliki relevansi yang kuat untuk mengatasi berbagai tantangan di era globalisasi, khususnya di lingkungan masyarakat desa.


Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada [Nama Dosen] selaku dosen pengampu, serta kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, dan motivasi selama proses penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan di masa yang akan datang.


Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi pemikiran dan menjadi tambahan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam studi keislaman dan sosiologi pedesaan.


[Nama Kota], [Tanggal]

Penulis


---


DAFTAR ISI


BAB I: PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

1.2.Rumusan Masalah

1.3.Tujuan Penulisan

1.4.Manfaat Penulisan


BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Konsep Nilai-Nilai Kepesantrenan

2.1.1. Pesantren Salaf (Tradisional)

2.1.2. Pesantren Modern

2.2.Konsep Internalisasi dan Implementasi Nilai

2.3.Masyarakat Desa dan Dinamika Sosialnya


BAB III: PEMBAHASAN

3.1.Nilai-Nilai Inti Kepesantrenan yang Diinternalisasikan

3.1.1. Nilai Spiritual dan Akidah

3.1.2. Nilai Akhlakul Karimah

3.1.3. Nilai Kemandirian dan Kesederhanaan (Zuhud)

3.1.4. Nilai Keilmuan (Thalabul 'Ilmi)

3.1.5. Nilai Sosial Kemasyarakatan (Ukhuwah)

3.2.Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Kepesantrenan di Desa

3.2.1. Peran Kiai dan Ulama sebagai Figur Sentral

3.2.2. Pembelajaran di Majelis Taklim dan Pengajian Kitab

3.2.3. Integrasi melalui Lembaga Pendidikan Formal (MI, MTs, MA)

3.2.4. Peran Alumni Pesantren (Santri Mukim dan Kalong)

3.3.Implementasi Nilai Kepesantrenan dalam Kehidupan Sosial Desa

3.3.1. Penguatan Karakter dan Pencegahan Dekadensi Moral

3.3.2. Resolusi Konflik dan Penjaga Tradisi Kerukunan

3.3.3. Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Nilai (Syariah dan Kemandirian)

3.3.4. Perbedaan Corak antara Pengaruh Pesantren Modern dan Salaf


BAB IV: PENUTUP

4.1.Kesimpulan

4.2.Saran


DAFTAR PUSTAKA


---


BAB I: PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang


Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan budaya dan peradaban Islam. Dalam perjalanannya, pesantren terbagi dalam dua corak utama: pesantren salaf (tradisional) yang berfokus pada pengkajian kitab kuning dan mempertahankan tradisi klasik, dan pesantren modern yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan kurikulum umum dan keterampilan modern.


Keberadaan pesantren, baik modern maupun salaf, sering kali terletak atau memiliki pengaruh kuat di wilayah pedesaan. Nilai-nilai luhur yang dikembangkan di pesantren—seperti kejujuran, kesederhanaan, penghormatan kepada guru, dan kepedulian sosial—telah lama menjadi penopang moral masyarakat desa. Di tengah gempuran globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, nilai-nilai ini menjadi benteng pertahanan sekaligus penuntun arah bagi masyarakat desa.


Namun, proses internalisasi (pembatinan) dan implementasi (penerapan) nilai-nilai tersebut di tengah masyarakat desa bukanlah hal yang otomatis. Diperlukan strategi dan aktor-aktor yang mampu menjembatani nilai-nilai pesantren dengan realitas kehidupan sehari-hari di desa. Makalah ini akan membahas bagaimana nilai-nilai kepesantrenan tersebut diinternalisasikan dan diimplementasikan, serta dampaknya terhadap tatanan sosial, ekonomi, dan budaya di desa-desa.


1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:


1. Apa saja nilai-nilai inti kepesantrenan (modern dan salaf) yang diinternalisasikan di desa-desa?

2. Bagaimana strategi internalisasi nilai-nilai kepesantrenan tersebut?

3. Bagaimana implementasi nilai-nilai kepesantrenan dalam kehidupan sosial masyarakat desa?


1.3. Tujuan Penulisan


1. Mengidentifikasi nilai-nilai inti kepesantrenan yang relevan bagi masyarakat desa.

2. Menganalisis strategi dan metode internalisasi nilai-nilai kepesantrenan di desa.

3. Mendeskripsikan bentuk-bentuk implementasi nilai-nilai kepesantrenan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat desa.


1.4. Manfaat Penulisan


1. Manfaat Akademis: Menambah khazanah keilmuan mengenai peran pesantren dalam transformasi sosial pedesaan.

2. Manfaat Praktis: Dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pengelola pesantren, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa dalam merancang program pemberdayaan masyarakat yang berbasis nilai.


---


BAB II: TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Konsep Nilai-Nilai Kepesantrenan


Nilai-nilai kepesantrenan adalah prinsip-prinsip hidup yang ditanamkan dan dikembangkan dalam lingkungan pesantren.


2.1.1. Pesantren Salaf (Tradisional)

Ciri khasnya adalah penekanan pada pemahaman kitab kuning(klasik) sebagai sumber utama ilmu agama. Nilai utamanya meliputi: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, patuh kepada kiai (ta'dzim), dan menjaga tradisi turun-temurun. Pendidikan akhlak menjadi fondasi utama.


2.1.2. Pesantren Modern

Pesantren modern menggabungkan kurikulum agama dan umum.Selain nilai-nilai salaf, pesantren modern menekankan disiplin waktu, penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris), keterampilan organisasi, dan wawasan global. Nilai kesederhanaan dan kemandirian tetap dipertahankan, tetapi dalam konteks yang lebih modern.


2.2. Konsep Internalisasi dan Implementasi Nilai


· Internalisasi adalah proses penerimaan, pemahaman, dan pembatinan nilai sehingga menjadi keyakinan dan bagian dari kepribadian seseorang. Proses ini melibatkan kognisi, afeksi, dan psikomotor.

· Implementasi adalah realisasi atau penerapan nilai-nilai yang telah diinternalisasi ke dalam perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam bentuk tindakan, kebiasaan, maupun sistem sosial.


2.3. Masyarakat Desa dan Dinamika Sosialnya


Masyarakat desa dicirikan oleh hubungan kekerabatan yang kuat, solidaritas mekanik (paguyuban), dan ketaatan pada tradisi. Namun, desa juga menghadapi tantangan modern seperti pengaruh media digital, migrasi, dan perubahan nilai. Pesantren hadir sebagai institusi yang mampu merespons perubahan ini dengan tetap berpegang pada nilai-nilai intinya.


---


BAB III: PEMBAHASAN


3.1. Nilai-Nilai Inti Kepesantrenan yang Diinternalisasikan


Beberapa nilai inti yang menjadi fondasi dan disebarluaskan di desa-desa adalah:


1. Nilai Spiritual dan Akidah: Penanaman tauhid dan ketundukan kepada Allah SWT menjadi dasar segala tindakan.

2. Nilai Akhlakul Karimah: Penekanan pada sopan santun, jujur, amanah, rendah hati (tawadhu'), dan menghormati orang tua serta guru.

3. Nilai Kemandirian dan Kesederhanaan (Zuhud): Hidup sederhana, tidak berfoya-foya, dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

4. Nilai Keilmuan (Thalabul 'Ilmi): Semangat untuk menuntut ilmu sepanjang hayat, baik ilmu agama maupun ilmu dunia.

5. Nilai Sosial Kemasyarakatan (Ukhuwah): Semangat tolong-menolong, gotong royong, dan menjaga persaudaraan sesama muslim dan warga negara.


3.2. Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Kepesantrenan di Desa


1. Peran Kiai dan Ulama sebagai Figur Sentral: Kharisma, keteladanan, dan wewenang spiritual kiai membuat nasihat dan ajaran-ajarannya mudah diterima masyarakat. Kiai menjadi "living example" dari nilai-nilai yang diajarkan.

2. Pembelajaran di Majelis Taklim dan Pengajian Kitab: Forum pengajian rutin, baik untuk ibu-ibu, bapak-bapak, maupun pemuda, menjadi media transfer nilai yang efektif. Pengajian kitab kuning (seperti Safinatun Najah, Ta'lim Muta'allim) menjadi sarana penanaman akhlak dan fikih sehari-hari.

3. Integrasi melalui Lembaga Pendidikan Formal: Banyak pesantren yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Tsanawiyah (MTs), dan Aliyah (MA). Melalui sekolah-sekolah ini, nilai-nilai pesantren diintegrasikan ke dalam kurikulum dan budaya sekolah.

4. Peran Alumni Pesantren (Santri Mukim dan Kalong): Santri yang kembali ke desanya ("santri kalong") atau alumni yang menetap di desa menjadi agen perubahan yang menyebarkan nilai-nilai pesantren melalui perilaku dan aktivitasnya di masyarakat.


3.3. Implementasi Nilai Kepesantrenan dalam Kehidupan Sosial Desa


1. Penguatan Karakter dan Pencegahan Dekadensi Moral: Nilai akhlak membantu mengurangi kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkoba. Pemuda yang aktif di pengajian cenderung memiliki aktivitas yang lebih terarah.

2. Resolusi Konflik dan Penjaga Tradisi Kerukunan: Kiai dan tokoh agama sering menjadi penengah dalam sengketa tanah atau konflik sosial. Nilai ukhuwah dan tasamuh (toleransi) menjadi perekat sosial antarwarga, termasuk dengan pemeluk agama lain.

3. Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Nilai: Nilai kemandirian diwujudkan dalam pendirian koperasi syariah, kelompok usaha bersama (KUB), dan pertanian organik. Nilai kejujuran dan amanah menjadi modal sosial dalam menjalankan usaha.

4. Perbedaan Corak antara Pengaruh Pesantren Modern dan Salaf:

   · Pesantren Salaf cenderung kuat dalam menjaga tradisi, budaya lokal, dan kearifan dalam menyelesaikan masalah dengan pendekatan fikih tradisional.

   · Pesantren Modern sering kali lebih adaptif terhadap teknologi. Alumni pesantren modern mungkin lebih aktif mendirikan lembaga kursus, startup bisnis syariah, atau memanfaatkan media sosial untuk dakwah, dengan tetap memegang nilai inti.


---


BAB IV: PENUTUP


4.1. Kesimpulan


Nilai-nilai kepesantrenan, baik dari pesantren salaf maupun modern, memainkan peran krusial dalam membentuk karakter dan tata kelola sosial masyarakat desa. Proses internalisasi nilai-nilai ini—seperti spiritualitas, akhlak, kemandirian, dan ukhuwah—terjadi melalui keteladanan kiai, pengajian rutin, lembaga pendidikan, dan peran aktif alumni. Implementasinya terlihat dalam penguatan moral warga, resolusi konflik yang damai, dan tumbuhnya ekonomi kerakyatan yang berbasis nilai-nilai syariah dan kemandirian. Dengan demikian, pesantren terbukti bukan hanya menara gading keagamaan, melainkan kekuatan sosial-kultural yang hidup dan dinamis di tengah denyut nadi masyarakat desa.


4.2. Saran


1. Bagi Pesantren: Perlu mengembangkan program-program yang lebih terstruktur untuk pemberdayaan masyarakat desa, seperti pelatihan kewirausahaan dan literasi digital, tanpa mengabaikan nilai-nilai salaf.

2. Bagi Pemerintah Desa: Sebaiknya menjadikan pesantren sebagai mitra strategis dalam perencanaan pembangunan desa, khususnya di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.

3. Bagi Peneliti Lanjutan: Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam untuk mengukur dampak kuantitatif dan kualitatif dari internalisasi nilai pesantren terhadap indeks kebahagiaan, ketahanan keluarga, dan pertumbuhan ekonomi mikro di desa.


---


DAFTAR PUSTAKA


[1] Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta: LP3ES.

[2]Geertz, Clifford. 2014. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

[3]Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.

[4]Natsir, Muhammad. 2001. Pesantren Modern dan Salaf: Karakteristik dan Perkembangannya. Bandung: Pustaka Hidayah.

[5]Wahid, Abdurrahman. 2001. Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. Yogyakarta: LKiS.

[6]Bruinessen, Martin van. 2012. Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar