Berikut adalah gambaran kekayaan alam Indonesia selain mineral, meliputi laut, sungai, dan hutan:
Artikel oleh:
Abdul Rosyid Ahmad Dj.
🌊 Kekayaan Laut Indonesia
Laut Indonesia adalah yang terbesar di dunia dan merupakan pusat keanekaragaman hayati bahari.
Jenis Kekayaan Contoh & Keterangan
Terumbu Karang Memiliki 18% total terumbu karang dunia, terbesar di segitiga terumbu karang dunia (Coral Triangle).
Ikan & Produk Perikanan Penangkapan ikan laut: 7,4 juta ton/tahun (2022). Rumput Laut: Produsen terbesar dunia, produksi > 10 juta ton/tahun.
Garis Pantai & Pariwisata Memiliki 99.083 km garis pantai (terpanjang ke-2 di dunia), potensi wisata bahari yang sangat besar.
Mangrove Memiliki 23% ekosistem mangrove dunia (terluas di dunia), selain kayu, berfungsi sebagai penyerap karbon biru.
💧 Kekayaan Sungai dan Perairan Darat
Indonesia memiliki lebih dari 5.590 sungai utama dengan potensi yang besar.
Jenis Kekayaan Contoh & Keterangan
Sumber Air Menyediakan air baku untuk kebutuhan domestik, industri, dan irigasi pertanian.
Potensi Listrik Tenaga Air (PLTA) Potensi teknis 94.476 MW, namun yang baru dimanfaatkan sekitar 6.700 MW (7%).
Perikanan Air Tawar Produksi budidaya air tawar (ikan nila, mas, lele, dll) mencapai 5,6 juta ton (2022).
Transportasi & Pariwisata Sungai-sungai besar di Kalimantan & Sumatra sebagai jalur transportasi utama. Sungai di Jawa & Bali untuk wisata (rafting, sightseeing).
🌳 Kekayaan Hutan Indonesia
Hutan Indonesia adalah yang terluas ketiga di dunia dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Jenis Kekayaan Contoh & Keterangan
Luas & Keanekaragaman Hayati Luas 120,6 juta hektar. Memiliki 10-15% spesies tumbuhan, mamalia, dan burung di dunia.
Hasil Hutan Kayu Produksi kayu bulat dari hutan tanaman industri untuk kebutuhan kayu lapis, pulp, kertas, dll.
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Rotan: Produsen terbesar dunia. Madu, Getah Karet Alam, Damar, Gaharu, Bambu, dll.
Jasa Lingkungan Penyimpanan Karbon: Hutan Indonesia menyimpan cadangan karbon sangat besar, bernilai tinggi dalam skema perdagangan karbon. Penyangga Iklim Global, regulator tata air, dan pencegah banjir & erosi.
💎 Ringkasan Potensi Nilai Ekonomi
· Ekonomi Biru: Pemerintah mendorong Ekonomi Biru yang berkelanjutan, dengan potensi nilai dari perikanan berkelanjutan, budidaya rumput laut, wisata bahari, dan karbon biru dari mangrove yang sangat besar, bahkan bisa mencapai ribuan triliun rupiah.
· Karbon Hijau: Melalui skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK), Indonesia berpotensi mendapatkan pendapatan dari perdagangan kredit karbon dari hutannya yang masih luas.
Sumber lain
Berdasarkan informasi yang ada, berikut adalah gambaran potensi zakat mal di Indonesia yang sangat besar, meskipun realisasi penarikannya masih jauh dari target:
📊 Potensi vs Realisasi Zakat Mal di Indonesia
Komponen Potensi (Per Tahun) Realisasi (Contoh: 2023) Keterangan
Secara Nasional Rp 327 Triliun Rp 16,7 Triliun (2023, BAZNAS) Realisasi hanya 5.1% dari total potensi.
Zakat Penghasilan (UPZ) Rp 217 Triliun Data spesifik terbatas Dari gaji pegawai formal & profesional.
Zakat Perdagangan Rp 74 Triliun Data spesifik terbatas Dari usaha pedagang, restoran, jasa, dll.
Zakat Uang & Surat Berharga Rp 36 Triliun Data spesifik terlakas Dari tabungan, deposito, & investasi masyarakat.
💰 Sumber-Sumber Potensi Zakat Mal Utama
Zakat mal dikeluarkan dari harta yang telah memenuhi syarat nishab (batas minimum) dan haul (dimiliki selama satu tahun).
Jenis Zakat Mal Contoh & Keterangan Nishab (Setara)
Zakat Penghasilan (Profesi) Dari gaji bulanan pegawai, honorer, fee profesional (dokter, pengacara, konsultan). 85 gram emas/tahun. Jika harga emas Rp 1.2 juta/gram, nishabnya ± Rp 8,5 juta/bulan.
Zakat Uang & Tabungan Dari uang tunai, tabungan, deposito, dan surat berharga yang telah dimiliki 1 tahun. 85 gram emas.
Zakat Perdagangan Dari aset dan keuntungan usaha (toko, ekspor-impor, jasa) yang telah berjalan 1 tahun. 85 gram emas. Dihitung dari: (Aset lancar - Utang jangka pendek).
Zakat Emas & Perak Dari emas dan perak yang tidak dipakai (sebagai investasi) dan telah mencapai nishab. Emas: 85 gram. Perak: 595 gram.
Zakat Pertanian Dari hasil panen tanaman pangan (padi, gandum, jagung, dll). 5 wasq (setara 653 kg beras).
Zakat Peternakan Dari hewan ternak (sapi, kambing, unta) yang digembalakan secara bebas dan mencapai nishab. Sapi: 30 ekor. Kambing: 40 ekor.
🔍 Analisis & Tantangan
1. Kesenjangan Besar antara Potensi dan Realisasi:
· Faktor Utama: Tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang kewajiban zakat mal masih perlu ditingkatkan.
· Tantangan Lain: Kurangnya transparansi dan kepercayaan pada lembaga zakat, serta sistem pendataan muzaki (wajib zakat) yang belum terintegrasi.
2. Strategi Pengembangan:
· Edukasi dan Sosialisasi: BAZNAS dan LAZ (Lembaga Amil Zakat) gencar mengedukasi melalui seminar, media sosial, dan kerja sama dengan perusahaan untuk program zakat karyawan.
· Digitalisasi: Kemudahan berzakat melalui platform digital (e.g., GoPay, DANA, LinkAja, dan aplikasi bank) telah meningkatkan jumlah penerimaan zakat.
· Kerja Sama Korporasi: Program Corporate Zakat dimana perusahaan memfasilitasi pemotongan zakat langsung dari gaji karyawan yang bersedia.
💡 Kesimpulan
Potensi zakat mal di Indonesia sangat besar (ratusan triliun rupiah) dan dapat menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan. Namun, tantangan terbesarnya adalah mengubah potensi ini menjadi realisasi melalui edukasi, digitalisasi, dan pembangunan sistem yang transparan dan terpercaya.
Sumber lainnya
Berdasarkan data resmi hingga Oktober 2025, pemerintah telah menetapkan target dan mencatat realisasi untuk berbagai jenis pajak, termasuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh), dan pajak lainnya. Informasinya dapat dirangkum sebagai berikut:
📊 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak 2025
Jenis Pajak Target APBN 2025 Realisasi (Periode Tertentu) Keterangan
Total Penerimaan Pajak Rp 2.189,3 Triliun Rp 1.273,35 Triliun (Jan-Sep 2025) Mencapai 58,16% dari target APBN.
Pajak Penghasilan (PPh) Rp 1.209,3 Triliun Mengalami kontraksi Kontributor target terbesar (>55%). Restitusi (pengembalian) PPh Badan cukup tinggi.
PPN & PPnBM Rp 945,1 Triliun Mengalami kontraksi Menyumbang sekitar 43% dari total target.
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) & Pajak Lainnya Rp 27,1 Triliun Menyumbang 1,6% dari total target.
Cukai Rp 244,2 Triliun Termasuk rencana ekstensifikasi objek cukai.
Bea Masuk Rp 52,9 Triliun
Restitusi (Pengembalian) Pajak - Rp 304,3 Triliun (Jan-Agu 2025) Nilai restitusi naik 40,3% dibanding periode sama 2024, didominasi PPh Badan & PPN.
💡 Analisis dan Tantangan
· Kinerja Penerimaan: Hingga September 2025, realisasi penerimaan pajak baru mencapai 58,16% dari target APBN dan masih 6% lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Kontraksi ini terutama disebabkan oleh menurunnya penerimaan dari PPh Badan serta PPN dan PPnBM.
· Tantangan Teknis: Implementasi sistem perpajakan baru (Core Tax Administration System/CTAS) dilaporkan menimbulkan kendala teknis, seperti kesulitan dalam mengakses fitur dan menerbitkan faktur pajak, yang mempengaruhi kelancaran administrasi dan setoran pajak di beberapa wilayah.
· Faktor Eksternal: Volatilitas harga komoditas turut mempengaruhi realisasi pajak. Penurunan harga komoditas tidak hanya mengurangi penerimaan PBB sektor pertambangan, tetapi juga menyebabkan kenaikan permohonan restitusi (pengembalian kelebihan bayar) pajak karena kredit pajak yang dibayar wajib pajak lebih besar daripada pajak yang terutang.
🔮 Proyeksi dan Kebijakan
Pemerintah memproyeksikan Belanja Perpajakan (tax expenditure) pada 2025 akan mencapai Rp 515 triliun. Belanja perpajakan ini bukan pengeluaran uang, tetapi merupakan potensi penerimaan pajak yang dikurangi atau tidak dipungut karena pemberian insentif dan fasilitas perpajakan. Alokasi terbesarnya dimanfaatkan untuk:
· Meningkatkan kesejahteraan rumah tangga (lebih dari 54%).
· Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) (sekitar 20% atau setara Rp 100 triliun lebih).
Wallaahu A'lam Bish Showab
Yogyakarta, 4 November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar