Muhammad bin Abdullah dan Daya Juang dalam Hidup yang Bermartabat
(Sebuah Makalah Refleksi)
Ditulis oleh: Abdul Rosyid Ahmad Djailani
Pendahuluan
Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari tantangan, ujian, dan perjuangan. Dalam sejarah peradaban Islam, sosok Nabi Muhammad bin Abdullah menjadi teladan agung dalam menapaki jalan hidup yang penuh liku, namun tetap teguh dalam menjaga martabat diri dan ummat. Beliau hadir bukan hanya sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai figur yang menunjukkan arti sesungguhnya dari daya juang dalam membangun kehidupan yang bermartabat, berkeadilan, dan berlandaskan nilai ilahi.
Makalah refleksi ini bertujuan mengurai keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak masa kanak-kanak hingga beliau diutus sebagai Rasul, serta bagaimana relevansi nilai daya juang beliau dapat dijadikan inspirasi bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan bermartabat pada era modern.
Biografi Singkat Muhammad bin Abdullah
Muhammad lahir pada tahun 571 M, dikenal sebagai Tahun Gajah. Sejak kecil, beliau telah diuji dengan berbagai kondisi sulit; lahir dalam keadaan yatim, kemudian menjadi piatu di usia dini, serta hidup dalam lingkungan sosial yang keras. Namun, semua pengalaman pahit tersebut membentuk pribadi yang kuat, jujur, amanah, serta berjiwa sosial tinggi.
Beliau tumbuh dengan menekuni dunia perdagangan, dikenal luas dengan sebutan al-Amîn (orang yang terpercaya). Karakter ini menjadikan beliau disegani oleh masyarakat Mekah bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi.
Daya Juang Muhammad bin Abdullah
1. Daya juang menghadapi ujian hidup sejak dini
Kehilangan orang tua sejak kecil tidak menjadikan Muhammad pribadi yang lemah. Beliau belajar kemandirian dan membangun ketahanan mental.
Dalil: Allah SWT berfirman:
"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi (mu)?" (QS. Adh-Dhuha: 6).
2. Daya juang dalam menjaga kejujuran dan integritas
Dalam dunia perdagangan, beliau tidak pernah melakukan kecurangan. Kejujuran beliau menjadi modal sosial yang melahirkan kepercayaan masyarakat.
Hadits: Rasulullah bersabda: “Pedagang yang jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).
3. Daya juang menyampaikan risalah meski penuh rintangan
Sejak diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, beliau menghadapi berbagai tantangan: penolakan, pengusiran, hingga ancaman pembunuhan. Namun, beliau tetap teguh menyampaikan kebenaran.
Dalil: “Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94).
4. Daya juang membangun peradaban bermartabat
Melalui Piagam Madinah, beliau menegakkan prinsip keadilan, toleransi, dan persaudaraan lintas agama. Inilah wujud nyata perjuangan beliau dalam menciptakan tatanan sosial yang bermartabat.
Refleksi untuk Kehidupan Modern
-
Ketabahan menghadapi ujian hidup
Generasi muda perlu belajar dari Nabi bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. -
Integritas sebagai fondasi kehidupan
Kejujuran dan amanah adalah kunci untuk meraih kepercayaan dalam pekerjaan, bisnis, maupun kepemimpinan. -
Berjuang dengan visi yang luhur
Kehidupan bermartabat hanya terwujud bila perjuangan didasarkan pada nilai-nilai spiritual, bukan sekadar kepentingan duniawi. -
Membangun masyarakat adil dan damai
Meneladani Piagam Madinah, umat Islam perlu menjadi pelopor persatuan, keadilan sosial, serta toleransi dalam keberagaman.
Relevansi dengan Regulasi Kekinian
- Etika Bisnis dan Perdagangan
- Sejalan dengan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang menuntut adanya kejujuran dan keadilan dalam transaksi.
- Relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
- Hak Asasi dan Martabat Manusia
- Sejalan dengan UUD 1945 Pasal 28D ayat (1): “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
- Moderasi Beragama
- Meneladani sikap Rasul dalam Piagam Madinah, pemerintah Indonesia mengarusutamakan Moderasi Beragama sebagai kebijakan strategis Kementerian Agama.
Kesimpulan
Muhammad bin Abdullah adalah teladan utama dalam daya juang menuju kehidupan yang bermartabat. Perjalanan hidup beliau menunjukkan bahwa kesulitan justru dapat melahirkan kekuatan, kejujuran adalah modal utama dalam membangun kepercayaan, dan perjuangan menegakkan kebenaran harus selalu didasarkan pada nilai ilahiyah.
Bagi kita, refleksi ini menjadi pengingat bahwa hidup bermartabat tidak dapat diraih tanpa perjuangan yang ikhlas, konsisten, dan penuh integritas. Dengan meneladani Nabi Muhammad SAW, umat Islam dapat membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat yang lebih baik, adil, serta bermartabat.
Identitas Penulis
Nama: Abdul Rosyid Ahmad Djailani
Gelar: S.Ag., M.M.
Profesi: Dosen Politeknik LPP Yogyakarta, Ketua Laboratorium Agama Islam SMK YPPN Sleman, Inisiator Konsep Indonesia Independen
Bidang: Pendidikan, Keislaman, dan Pemberdayaan Masyarakat
Yogyakarta, 4 September 2025
Wallaahu A'lam Bish Showab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar