Bismillaahirrahmaanirrahiim
Jejak dan Langkah Alumni KMI Pabelan Mungkid Magelang (1965–2025)
Oleh: Mas Rosyid Ahmad Djailani
Pendahuluan
Sejarah panjang sebuah lembaga pendidikan tidak hanya tercatat dalam bangunan fisik atau kurikulumnya, tetapi juga dalam kiprah para alumninya. Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Pabelan Mungkid Magelang berdiri sebagai mercusuar pendidikan Islam yang melahirkan generasi penerus sejak tahun 1965. Enam dekade perjalanan ini telah menorehkan jejak yang patut dikenang dan dijadikan inspirasi.
Bab I – Awal Berdiri (1965–1975)
- Latar belakang pendirian KMI Pabelan.
- Para perintis dan guru pertama.
- Tantangan awal: sarana terbatas, tekad membaja.
- Alumni angkatan pertama dan peran mereka dalam masyarakat.
Bab II – Era Perkembangan (1976–1995)
- KMI semakin dikenal luas sebagai lembaga pendidikan Islam.
- Perkembangan kurikulum, kegiatan santri, dan metode belajar.
- Kiprah alumni yang mulai masuk ke berbagai sektor: pendidikan, dakwah, birokrasi, ekonomi, dan sosial.
Bab III – Masa Kebangkitan (1996–2015)
- Perubahan zaman: masuknya teknologi, globalisasi, dan reformasi.
- Adaptasi KMI dalam menghadapi tantangan baru.
- Peran alumni dalam menggerakkan organisasi keislaman, lembaga sosial, serta kontribusi di tingkat nasional.
Bab IV – Kiprah di Era Digital (2016–2025)
- Alumni KMI yang menjadi tokoh di bidang akademik, profesional, wirausaha, hingga politik.
- Pemanfaatan internet dan media digital dalam dakwah serta pendidikan.
- Jejak alumni di kancah internasional.
Bab V – Refleksi dan Inspirasi
- Kisah sukses alumni dari berbagai bidang.
- Nilai-nilai utama yang dibawa dari KMI: disiplin, ukhuwah, kesederhanaan, dan keikhlasan.
- KMI sebagai rumah besar yang terus menginspirasi.
Bab VI – Harapan dan Visi 2025 ke Depan
- Tantangan bagi KMI dan alumninya di era global.
- Strategi memperkuat ukhuwah alumni lintas generasi.
- Peran alumni dalam membangun bangsa, agama, dan peradaban dunia.
Penutup
Perjalanan enam puluh tahun KMI Pabelan bukan sekadar deretan tahun, tetapi jejak langkah para alumni yang membangun sejarah. Dari kampung kecil di Magelang, gema kontribusi mereka menjangkau pelosok nusantara bahkan dunia. Kisah ini bukan akhir, melainkan babak baru untuk terus melangkah ke depan.
Kisah-kisah tanpa gemuruh suara
Dalam sebuah Narasi
Jejak dan Langkah Alumni KMI Pabelan Mungkid Magelang (1965–2025)
Oleh: Mas Rosyid Ahmad Djailani
Prolog: Dari Pabelan untuk Nusantara
Di sebuah desa kecil bernama Pabelan, Mungkid, Magelang, berdirilah sebuah lembaga yang kelak menjadi saksi lahirnya ribuan kader bangsa: Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Pabelan. Tahun 1965 menjadi titik awal. Sebuah langkah sederhana, namun penuh doa dan tekad. Dari bangunan yang masih sangat sederhana, para santri menapaki jalan ilmu, ditempa dengan disiplin, kesederhanaan, dan semangat pengabdian.
Mereka tidak hanya belajar kitab, bahasa Arab, atau ilmu umum. Mereka belajar hidup: bangun sebelum subuh, berbaris dalam rapi, mengaji dengan penuh cinta, dan menghafal doa dengan rasa syukur. Dari Pabelan, kisah itu pun dimulai.
Kisah Angkatan Pertama: Jejak di Tengah Terbatas
Alumni angkatan awal adalah saksi hidup betapa perjuangan itu bukan sekadar kata-kata. Tidur di asrama beralaskan tikar, makan dengan lauk sederhana, namun hati mereka penuh cahaya. Setelah lulus, mereka pulang ke kampung halaman masing-masing, ada yang menjadi guru, ustadz, pegawai negeri, pedagang, bahkan tokoh masyarakat.
Mereka membawa satu bekal yang sama: “Menjadi insan bermanfaat di manapun berada.”
Tahun 1980-an: Cahaya yang Semakin Terang
Memasuki era 1980-an, jumlah alumni makin bertambah. Ada yang merantau ke Jakarta, bekerja di kantor kementerian, ada yang mengabdi di pesantren, bahkan ada yang mulai melanjutkan studi ke luar negeri.
Di setiap langkah mereka, nama KMI Pabelan selalu disebut. Mereka bangga menjadi alumni, meski tak banyak fasilitas yang bisa dibanggakan. Yang mereka punya hanyalah jati diri dan karakter yang kuat.
Tahun 2000-an: Generasi Digital yang Tangguh
Ketika dunia mulai mengenal internet, alumni KMI Pabelan tidak ketinggalan. Ada yang mendirikan sekolah berbasis IT, ada yang aktif berdakwah lewat media sosial, bahkan ada yang mendirikan usaha rintisan (startup) dengan nuansa Islami.
Jejak mereka tersebar di berbagai bidang: pendidikan, bisnis, politik, sosial, hingga seni dan budaya. Mereka tetap membawa ruh yang sama: sederhana dalam gaya, tapi luas dalam karya.
Tahun 2025: Enam Dekade Perjalanan
Kini, di tahun 2025, sudah enam puluh tahun perjalanan KMI Pabelan. Ribuan alumninya telah menjadi saksi bagaimana dari sebuah dusun kecil di Magelang, lahir tokoh-tokoh bangsa yang ikut membangun negeri. Ada yang menjadi profesor, dokter, aktivis, pengusaha, bahkan pejabat.
Namun, bagi mereka, kebanggaan terbesar bukan pada jabatan, melainkan pada kemampuan untuk terus mengabdi.
Epilog: Jejak yang Tak Pernah Padam
Kisah alumni KMI Pabelan adalah kisah tentang cahaya. Dari 1965 hingga 2025, cahaya itu tidak pernah padam. Ia terus menyala di hati setiap alumnus, di setiap sudut negeri, bahkan hingga mancanegara.
Jejak mereka bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan. Karena KMI bukan sekadar lembaga, melainkan rumah yang melahirkan pejuang kehidupan.
Berikut ini merupakan narasi kisah per dekade, lengkap dengan warna perjuangan para alumni (tanpa harus menyebut nama individu dulu, tapi bisa ditambahkan kalau Mas ingin). Saya rangkai seperti mozaik cerita:
Jejak dan Langkah Alumni KMI Pabelan Mungkid Magelang (1965–2025)
Oleh: Mas Rosyid Ahmad Djailani
1965–1975: Jejak di Tengah Keterbatasan
Tahun-tahun pertama KMI Pabelan adalah tahun perjuangan. Santri belajar di ruang sederhana, tidur beralaskan tikar, makan dengan lauk seadanya. Namun, justru dari keterbatasan itu lahir kekuatan: disiplin, keikhlasan, dan kemandirian.
Alumni angkatan awal pulang ke desa-desa, menjadi guru mengaji, imam masjid, atau pedagang kecil. Meski sederhana, mereka menyalakan obor ilmu di tengah masyarakat. Nama KMI mulai harum bukan karena gedungnya, tetapi karena akhlak lulusannya.
1976–1985: Langkah yang Mulai Dikenal
Pada dekade ini, jumlah alumni bertambah banyak. Ada yang merantau ke kota besar, ada pula yang tetap mengabdi di desa. Mereka hadir di sekolah, pesantren, perkantoran, bahkan di pasar.
Di manapun berada, alumni KMI membawa ciri khas: sopan santun, giat bekerja, dan tidak mudah menyerah. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pendidikan sederhana bisa melahirkan sosok yang diperhitungkan.
1986–1995: Cahaya yang Menerangi
Generasi ini memasuki era pembangunan nasional yang pesat. Beberapa alumni melanjutkan studi ke perguruan tinggi, bahkan ada yang ke luar negeri. Mereka mulai menulis buku, mengisi ceramah di radio, hingga terlibat dalam organisasi masyarakat.
Di daerah-daerah, alumni KMI menjadi motor penggerak dakwah, pembangunan masjid, hingga pengembangan ekonomi umat. Jejak mereka semakin jelas terlihat: KMI melahirkan insan penggerak masyarakat.
1996–2005: Menerobos Zaman Baru
Reformasi 1998 menjadi momentum. Banyak alumni KMI yang terjun ke dunia organisasi, politik, dan birokrasi. Ada pula yang mendirikan sekolah, koperasi, dan lembaga sosial.
Meski menghadapi arus perubahan zaman, alumni tetap berpegang pada prinsip: ikhlas beramal. Mereka hadir di tengah masyarakat bukan untuk mencari nama, tapi untuk memberi manfaat.
2006–2015: Generasi Digital, Generasi Tangguh
Dunia mulai berubah cepat. Internet, handphone, dan media sosial masuk ke pelosok. Alumni KMI pun beradaptasi. Ada yang berdakwah lewat YouTube, ada yang membangun bisnis online, ada yang mendirikan lembaga pendidikan modern.
Namun ruh yang sama tetap menyertai: kesederhanaan, ukhuwah, dan keikhlasan. Dari dusun kecil Pabelan, suara alumni kini menggema ke penjuru negeri.
2016–2025: Jejak Global Alumni KMI
Kini alumni KMI tersebar di berbagai belahan dunia: ada yang menjadi profesor di luar negeri, ada yang menjadi pengusaha sukses, ada yang menjadi pemimpin lembaga, bahkan ada yang duduk di kursi birokrasi.
Meski berbeda profesi, mereka tetap satu keluarga besar. Dalam reuni-reuni, dalam silaturahmi lintas angkatan, selalu terucap kalimat yang sama: “Kami ini alumni KMI Pabelan.”
Jejak itu kini telah berusia enam dekade. Dari tahun 1965 hingga 2025, langkah alumni KMI telah menjelma menjadi kisah pengabdian tanpa henti.
Epilog: Dari Pabelan untuk Dunia
KMI Pabelan bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah yang melahirkan insan-insan berjiwa besar. Alumni yang lahir darinya bagaikan mata air yang terus mengalir, memberi kehidupan di manapun berada.
Jejak enam puluh tahun ini bukanlah akhir, melainkan pintu bagi langkah-langkah baru. Karena cahaya yang lahir di Pabelan, akan terus menerangi masa depan.
Testimonial
Jejak dan Langkah Alumni KMI Pabelan Mungkid Magelang (1965–2025)
Oleh: Mas Rosyid Ahmad Djailani
1965–1975: Jejak di Tengah Keterbatasan
Suatu sore, di tahun 1970, seorang santri bernama Ahmad pulang kampung setelah lulus. Ia hanya membawa kitab kuning, sajadah lusuh, dan tekad untuk mengajar di musholla desanya. Dengan suara serak, ia mengajarkan iqro’ pada anak-anak desa. Dari musholla kecil itu lahirlah generasi yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.
Pesan sederhana Ahmad: “Ilmu itu seperti pelita. Tidak penting siapa yang menyalakannya, yang penting ia menerangi jalan.”
1976–1985: Langkah yang Mulai Dikenal
Siti, seorang alumni perempuan, merantau ke Jakarta. Ia bekerja sebagai guru honorer dengan gaji pas-pasan. Namun, ia tidak pernah mengeluh. “Saya lulusan KMI,” katanya, “saya diajari hidup sederhana, tapi harus bermanfaat.”
Dari gaji kecil, ia membiayai adiknya kuliah hingga menjadi sarjana. Kini, adiknya itu menjadi dokter di kampung halamannya.
1986–1995: Cahaya yang Menerangi
Joko, alumni tahun 1988, memilih berjualan bakso keliling di pasar Magelang. Orang-orang heran, “Bukankah kau alumni KMI? Mengapa jualan bakso?”
Dengan tersenyum ia menjawab, “Saya tidak malu. Nabi juga berdagang. Yang penting halal, bisa menafkahi keluarga, dan bermanfaat bagi orang lain.”
Dua puluh tahun kemudian, usaha baksonya berkembang menjadi warung besar. Anak-anaknya ia sekolahkan hingga perguruan tinggi.
1996–2005: Menerobos Zaman Baru
Farid, lulusan 1999, menjadi aktivis mahasiswa di Yogyakarta. Ia terkenal vokal membela keadilan. Namun, setiap kali selesai berorasi, ia tak lupa menutup dengan doa.
Teman-temannya berkata, “Kau ini unik, bisa marah di mimbar, tapi lembut di masjid.” Farid menjawab, “Itu karena saya anak KMI. Kami diajari untuk tegas pada kebenaran, tapi lembut pada sesama.”
2006–2015: Generasi Digital, Generasi Tangguh
Laila, alumni 2008, memanfaatkan media sosial untuk berdakwah. Awalnya hanya membuat konten sederhana tentang doa harian. Namun, kontennya viral, ditonton jutaan orang. Banyak yang terinspirasi darinya untuk kembali mengaji.
Ia berkata, “Di KMI, saya belajar menyampaikan kebaikan dengan cara yang sederhana. Media sosial hanyalah alat, pesan yang baiklah yang menggerakkan hati.”
2016–2025: Jejak Global Alumni KMI
Hassan, lulusan 2015, melanjutkan studi ke Mesir, lalu ke Jerman. Kini ia menjadi profesor muda dalam bidang ilmu sosial. Dalam setiap seminar internasional, ia selalu memperkenalkan dirinya: “Saya berasal dari desa kecil di Magelang. Saya alumni KMI Pabelan.”
Para peserta seminar terkejut, bagaimana mungkin dari sebuah dusun lahir akademisi kelas dunia. Hassan pun tersenyum: “Begitulah KMI, kecil di mata orang, besar di mata Allah.”
Epilog: Dari Pabelan untuk Dunia
Kisah-kisah di atas hanyalah sebutir pasir dari lautan luas jejak alumni KMI. Ada yang jadi guru, pedagang, pejabat, penulis, aktivis, bahkan profesor. Semua berbeda jalan, tapi sama tujuan: mengabdi kepada umat dan negeri.
Enam dekade telah berlalu, tapi cahaya itu tak padam. Dari Pabelan, cahaya itu akan terus menjalar ke nusantara, bahkan dunia.
Tempelsari, 5 September 2025
ARD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar